Bromo dan Sempu Seperti Bukan di Bumi

Perjalanan minggu lalu kayak mimpi.

Sebelumnya, aku cuma bisa memandangi potongan gambar Segara Anak Pulau Sempu dan Gunung Bromo yang banyak diposting di web-web traveller. Sampai akhirnya, aku beneran bisa melihat lukisan Allah itu secara langsung. Dapat banyak bonus trip pula.

Awalnya

Rencana untuk tour lagi ke Jawa Timur bareng Erik dan Asih sebenarnya udah lama banget. Bahkan sebelum kami diwisuda deh. Banyak banget faktor yang menghalangi rencana jalan ini, mulai dari faktor ekonomi, kelabilan cuaca, sampai nentuin waktu yang tepat. Setelah diskusi sampai cakar-cakaran cukup lama, kami menentukan tanggal 29 April 2013 sebagai tanggal keberangkatan kami menuju ke timur. Selain kami bertiga, kami berhasil menghasut beberapa teman untuk ikut serta dalam acara jalan kali ini. Kingkin, Mita, Dian, dan Mbak Nurul were the lucky friends whom we invited. Sebenarnya masih ada lagi teman-teman yang aku ajak. Nggak usah disebut sih, habis tiba-tiba ngebatalin gitu. Belum jodoh kali ya.

Destinasi pertama adalah Gunung Bromo. Untuk akomodasi, Dian berbaik hati meminjamkan dua buah kamar di rumahnya yang ada di daerah Purwodadi, Pasuruan, untuk kita tempati. Jarak dari rumah Dian ke Penanjakan juga lumayan dekat (dibandingkan dengan rute dari Probolinggo). Hari Rabu, 1 Mei 2013 pukul 03.10, kami cabut menuju lokasi penanjakan dari rumah Dian. Sebelum meneruskan perjalanan, kami sempat berganti mobil, dari panther ke jeep ( kendaraan wajib buat menaklukan medan di kawasan Bromo). Sekitar pukul 04.30, kami sampai di penanjakan. Beuh suasananya benar-benar ramai sesak dipenuhi para pelancong yang ingin melihat sunrise di Bromo, kebanyakan para wisatawan asing pula.

Sunrise di Bromo

JLN sunrise-dari-penanjakan

Sama sih seperti sunrise-sunrise yang aku lihat di berbagai tempat (kurang punya sense ya. hahaha). Yang bikin pusing itu pas ngelihat deretan pegunungan di bawah penanjakan. Masya Allah, Subhanallah, Allahu akbar! Kawah Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Semeru, dan beberapa gunung lainnya menciptakan mahakarya spektakuler. Sumfeeeh spechless. Lagi-lagi ngerasa aku masih ngimpi. Duh, pusing. Gak ngerti lagi.

JLN mahakarya-sang-pencipta

Belum sepenuhnya sadar dari kenyataan. Mas supir jeep sekaligus mas pemandu kami, mengajak kami menuruni penanjakan menuju Kawah Bromo. Tapi sebelumnya, si Mas mengajak kami ke dua tempat eksotis lainnya di kawasan wisata Bromo. Dua tempat itu adalah bukit teletubies dan pasir berbisik. Lagi-lagi, rasanya mau pingsan (OK lebay deh). Perpaduan birunya langit dan hijaunya perbukitan di padang savana membuat mataku nggak bisa berkedip. Bertanya-tanya, ternyata ada ya tempat kayak gini di Indonesia? Kayak nggak lagi di bumi. Kontras dengan bukit teletubies, pasir berbisik tampak panas dan gersang (nggak nampak lagi, emang kenyataannya gitu). Pasirnya beda dengan pasir dari Gunung Merapi, malah lebih mirip abu ketimbang pasir. Walaupun begitu, tempatnya tetap eksotis. Berasa syutting video klip OST. Film Ayat-Ayat Cinta. Hahaha.

JLN asap-sulfur-dari-kawah-bromo

Kalau diumpamain sama makanan, melihat kawah bromo merupakan main course-nya. Sebelumnya kami harus melewati lautan pasir landai yang lama-lama menjadi menanjak. Selanjutnya, kami harus mendaki 250 anak tangga menuju Kawah Bromo. Total perjalanan kurang lebih 3 km dari parkiran jeep. Sampai di atas, kami dapat melihat penampakan Kawah Bromo yang selalu kenyang dengan berbagai macam sesaji yang diberikan penduduk sekitar (Suku Tengger) dan para pengunjung yang mempercayai klenikan. Ketika kami asyik foto-foto eh malah ada mas-mas yang nekat turun ke dalam kawah buat melempar benda pusaka.Aksi ekstrim lainya juga dilakukan oleh rombongan Mr. and Mrs. Bule, mereka semangat banget thawaf di Kawah Bromo. Wah-wah.

Sammy, I’m in love

Puas menikmati Bromo, destinasi kami yang kedua adalah ke Taman Safari. Sengaja kami mau rehat sebentar sebelum ke Sempu. Kan kalau baca-baca di Blog Traveller gitu, medan yang kita tempuh di Pulau Sempu cukup ekstrim. Jadi nggak ada salahnya untuk istirahat sambil bersafari ria di Taman Safari Indonesia 2 di daerah Prigen Pasuruan. Startnya dari rumah Dian pukul 09.30 sampai di Taman Safari pukul 11-an dengan mobil Ayah Dian. Kami ambil paket komplit Rp.95.000,00 sehingga setelah melihat hewan-hewan, kami bisa langsung menikmati wahana permainan. Sebenarnya suasana taman safari Prigen dengan yang di Bogor nggak jauh sama. Standarlah. Ada juga show-show hewan seperti lumba-lumba, wild-wild west, dll. Wahana permainannya juga beragam. Tapi bagi kami kurang menantanglah. Hahaha. Pengalaman paling tak terlupakan adalah foto bareng Sammy, si bayi orang utan. Udah kuanggep kayak anak sendiri (eh).

JLN sammy-im-in-love

Akhirnya, Sempu!

JLN ramainya-segara-anak

Sehari kemudian, persiapan untuk berangkat ke Sempu sudah siap 100%. Transportasi kami disponsori oleh si baik hati Lepo dan dipandu oleh Tama yang awalnya nggak niat ikut tapi akhirnya ikut karena nggak tega ngeliat kami para cewek-cewek (iya minus Erik) berkelana di hutan Pulau Sempu. Haha. Perjalanan dimulai dari rumah Rina daerah Sawojajar, Malang pada pukul 06.30. Tiba di Pantai Sendang Biru sekitar pukul 09.00, Tama langsung bergegas mengurus perizinan, mencarikan guide, dan juga kapal buat nyebrang. Bismillah. Nyebrang.

Nggak butuh lama untuk menyebrang, Pulau Sempunya juga keliatan kali dari Pantai Sendang Biru. Kami mendarat di Semut (bapak guidenya bilang gitu). Di situlah kami memulai treking kami. Medan yang kami lalui hampir mirip dengan medan di bukit belakang rumah Dian (baca postingan Bonus Trip). Bedanya mungkin tanahnya yang lebih becek tapi untungnya nggak begitu parah karena semalam nggak hujan. Estimasi bapa guideknya sih kita sampai di Segara Anak kurang lebih 2-3 jam lagi, nyata cuma 1 jam lebih dikit kita udah nyampai lhoo. Beuh ramenya. Banyak juga yang ngecamp di daerah Segara Anak. Karena waktu kami nggak banyak, aku langsung aja nyebur. Hahaha. Bahagia banget bisa renang-renang di air laut. Bener-bener paradise. Apalagi bisa foto underwater pake kamera lepo (sorry narsis. kekeke).

JLN kalemnya-pantai-bau-bau

Kami juga mendaki bukit karang di sekitar Segara Anak. Dari sana Samudra Hindia terpampang di depan mata. Duh duh, mau pingsan lagi. Rasanya nggak pengin cabut dari tempat ini. Nyesel tingkat dewa batal ngecamp di sini karena kehilangan beberapa personil. Huhuhu. Nggak ada waktu buat bersedih. Hati kembali menjadi riang gembira setelah sampai di Pantai Bau-Bau. Yeee, main air lagi. Tapi kali ini nggak fokus ke situ sih, fokus membersihkan diri. Karena kurang hati-hati, sewaktu treking ke Pantai Bau-Bau, kaki kananku masuk ke lumpur hisap. Udahlah, kostumku kotor semua. Parah.

Waktu kok cepet banget berlalu, pukul 02.00 nih, kami bergegas pulang ke Sendang Biru untuk mengejar kereta pulang dari Malang. Kali ini benar-benar sedih. Bertekad di dalam hati, kapan-kapan ke sini lagi!

to be continued: Bonus Trip

Farewell Trip: 4 Gaya Liburan di Jogja (Part 2)

Lanjutan dari Farewell Trip: 4 Gaya Liburan di Jogja (Part 1)

Hari Ketiga: Like a Foreign Tourist. Wear your Sun Glasses Plisss!

Dosa besar kalau kita ngelewatin objek wisata yang satu ini. Destinasi kali ini udah bukan lagi jadi konsumsi turis lokal Men. Namanya udah cetar membahana ke seluruh dunia. Bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia. He’eh, bener banget, destinasi ke-7 kami adalah Candi Borobudur.

Perjalanan dimulai dari perempatan Dongkelan, Bantul. Kami mangkal kurang lebih 45 menit menanti bus Cemara Tunggal, bus jurusan Jogja-Borobudur Rp.15.000,00. Kalau nggak mau kelamaan nunggu, ada alternatif lain kok, yaitu dengan menaiki bus AKAP jurusan Jogja-Semarang, turun di terminal Muntilan, lalu pindah bus jurusan Borobudur. Perjalanan kami sampai ke daerah Candi kurang lebih 1 jam.

Borobudur yang sekarang berbeda dengan Borobudur 9 tahun yang lalu (saat piknik bareng keluarga). Pertama, harga tiket masuknya. Sekarang udah naik jadi Rp.30.000,00 untuk turis lokal. Kedua, nggak boleh bawa makanan ketika memasuki kawasan candi. Kalau terlanjur bawa, bisa dititipkan di penitipan makanan yang ada di sebelah pos penjualan tiket. Ketiga, ada adab sarungisasi sebelum naik ke atas candi.

6

Jarak dari pos sarungisasi sampai ke Candinya memang cukup jauh kalau jalan kaki. Apalagi biasanya matahari bersinar terik menyengat kulit. Jadi inget ya, harus siap sedia payung. Kalau pengin nggak ngerasain panas dan capek, boleh deh keluar uang Rp.5.000,00 buat ikutan naik kereta menuju candi. Kalau pengin nyobain sesuatu yang baru, boleh juga keluar uang Rp.20.000,00 buat menyewa sepeda tandem. “Duh, berasa jadi Han Ji Eun dan Yong Jae deh,” batin Siti dan Basit, pasangan witing tresno.

And Finally, Candi Borobudur!

7

Hujan mengguyur areal candi dan sekitarnya. Tuh, kan, harus bawa payung pokonya. Pas perjalanan pulang, kami memutuskan untuk naik kereta kuda a.k.a andong Rp.15.000,00/kereta muat 4/5 orang sekali jalan dari candi ke terminal bus. Oya, bus ke Jogja tersedia maksimal pukul 16.00. Jangan pulang kesorean ya Gais.

8

Malam harinya, Continue reading

Farewell Trip: 4 Gaya Liburan di Jogja (Part 1)


Cuaca memang selalu nggak bersahabat di akhir tahun. Tiap sore hujan muluk. Kalau nggak ada niat yang kuat, acara Farewell Trip di Jogja nggak bakal terwujud. Wait-wait, kenapa lagi-lagi harus JOGJA? Judulnya Farewell Trip pulak! P-E-R-P-I-S-A-H-A-N! (biar tahu kenapa aku uring-uringan, baca postingan sebelumnya). Anyway, perjalanan kami nggak semenyedihkan judulnya kok.

Farewell Trip dengan para sahabat baik saya dimulai semenjak hari Senin tanggal 10 Desember 2012 dan berakhir di hari Kamis tanggal 14 Desember 2012. Untuk akomodasi kami diizinkan menginap di rumah Asih di daerah Dongkelan, Bantul sedangkan untuk wara-wirinya, kami juga dipinjami sepeda motor Asih (iya, kami memang nggak modal) dan memakai kendaraan umum. Selama empat hari ngebolang, kami melakoni empat gaya liburan yang berbeda lho guys! Totalnya ada 10 destinasi wisata yang kami kunjungi!

1

Hari Pertama: Gaya Nongkrong ala Mahasiswa Jogja

Sebagai mahasiswa yang baru saja diwisuda dua bulan yang lalu, nggak ada salahnya dong, nostalgia masa-masa kuliahan kami dulu. Of course: nongkrong! Kalau dulu pas di kampus, Bintaro Plaza dan Lotte Mart jadi langganan kami, tapi ini di Jogja Men, JOGJA. So, the first destination is Amplas a.k.a Ambarukmo Plasa  yang merupakan mall terbesar se-Jogja.

Perjalanan kami lanjutkan ke Masjid Kampus UGM (destinasi ke-2). Selain niat buat salat Asar, ada niat terselubung juga sih milih tempat salat di situ. Sekalian cari jodoh gitu. Ahahaha. Huss! Karena jodoh tak kunjung datang dan perut udah mulai keroncongan, kami memutuskan untuk move on ke daerah jakal, kita mimik susu dulu di Kalimilk (destinasi ke-3).

 2

Iya, kami bukan bayi lagi. Segelas susu (dengan aneka rasa yang bisa kamu pilih) seharga Rp.9.775,00+pajak 15% ternyata belum cukup membuat jinak cacing-cacing di perut. Kita perlu MAKAN BESAR BRO! Setelah saling lempar rekomendasi tempat makan, terpilihlah Continue reading

Cruel Memories in Yogyakarta

Pernah tahu ungkapan ini?

Kalau siap mencintai berarti siap patah hati.

Agaknya ungkapan di atas ada benarnya juga. Coba deh diinget-inget lagi, ketika kamu pernah merasa tersakiti, siapa coba yang bikin kamu sakit hati?
That’s right, pasti orang-orang yang kamu cintai bukan? Entah itu, orang tua, kakak, adik, teman baik, bahkan ehem ehem pacar kamu.

But, I’m sure that they don’t mean it. Kebanyakan dari kita sakit hati karena salah komunikasi, salah mengerti, salah memahami. Padahal sebenarnya, mereka hanya menginginkan yang terbaik buat kita. Iya nggak sih?

Terus kalau sakit hati karena berada di suatu tempat gimana?

Ya emang sih, intinya juga karena seseorang. But, why, why #tampang desperate, kenapa setting nya selalu di tempat yang sama? Tempat yang menurutku paling comfort sedunia. Tempat yang bernama Yogyakarta. Kota yang begitu aku cintai tapi berulang kali melukai #asaaaah.

Image Continue reading

Don’t Stop Believe It!

Kira-kira setahun lalu saya menempel gambar-gambar ini.

Gambar-gambar yang berisikan tempat-tempat mana yang ingin saya kunjungi selama setahun ini, sebelum saya hengkang dari Bintaro. Awalnya saya meragu untuk melakukannya. Sesuatu yang sering saya dengar ketika mengikuti kajian di SMA, di kampus, di majelis-majelis ilmu lainnya. Sesuatu tentang memvisualisasikan impianmu agar menjadi kenyataan. Saking ragunya, saya menempelkan gambar-gambar ini di samping lemari belajarku. Takut dilihat orang lain dan ditertawakan.

Satu per satu saya dapat mewujudkan semua yang ada dalam gambar. Continue reading