Modus Penipuan Menyamar Sebagai Adistya Juliza

Dimintai tolong teman nyebar kasus penipuan yang barusan membuatnya jadi salah satu korban. Semoga dengan adanya postingan ini teman-teman yang lain semakin berhati-hati. Kalau kata Bang Napi sih, “Waspadalah waspadalah!”.

“Sekarang cari duit makin susah. Berbagai cara dilakuin buat ngedapetin duit dalam waktu singkat dan mudah. Modus kali ini pernah terjadi pada diri saya sendiri. Oke, modus ini dilakukan melalui bbm. Awalnya tersangka yang mengaku bernama Adistya Juliza, melakukan pendekatan kepada saya. Sebagai orang yang aktif di media sosial, saya langsung searching nama Adistya Juliza di google. Namun hasil yang saya dapat hanya alamat twitternya yang tidak aktif juga. Selain itu, ada informasi kuliahnya juga. Dan, memang tidak ada yang mencurigakan sampai di sini.

Oke, setelah lama melakukan pendekatan lewat bbm, pelaku yang mengaku Adistya Juliza ini ngajak telponan. Oke saya ladeni saja. Dan, ditelpon ngomongnya kasar euy. Gak kayak wajahnya :p. Awak sebagai lelaki beriman langsung ilfeel. Tapi tetap saya ladeni juga. Dan yang bikin curiga adalah dia mulai minta transfer uang, kirim kue, bayarin ini itu. Alhamdulillah saya masih pengangguran yang sedang menunggu penempatan, banyak permintaannya yang saya tolak kecuali yang alasannya benar2 mendesak. Kalo kirim kue, berapalah harga kue. Kasikan ajaaa… tapi yang gak wajar, dia minta duit 500 ribu buat nebus bb-nya yang dipake buat bayar spp. Nah lo, dia ngakunya anak seoarang karyawan ternama di Lhokseumawe, tapi kok bayar spp kuliah susah? Mulai saya ragu. Dan akhirnya saya minta rekeningnya, tapi rekeningnya bukan atas nama Adistya Juliza Continue reading

Cara Mudah Memulai Skripsi / Karya Tulis Ilmiah Lainnya

Postingan kali ini spesial aku dedikasikan untuk sahabat terbaikku, Rizqa, yang sedang un-mood mode on buat ngerjain skripsi dan adik tingkatku tersayang, Arin, yang sering galau mikirin laporan PKL. Boleh juga untuk kamu yang saat ini mungkin mempunyai problem yang sama: menyusun karya tulis ilmiah apapun itu, skripsi kek, laporan PKL kek, laporan praktikum kek, paper, makalah, dll.

Mengerjakan karya tulis ilmiah diibaratkan seperti merasakan cinta terpendam. Layak orang yang jatuh cinta, setiap apa yang kita lakukan, kita pasti akan terbayang-bayang tugas yang belum kelar. Tidur nggak nyenyak, makan nggak nikmat. Ketika tiba saatnya untuk mengungkapkan lewat kata-kata, saatnya mulai menuliskan ide, kita hanya bisa terdiam di depan laptop. Seketika itu pula ide menguap dari isi kepala. Kalau sudah begini, biasanya kita menunggu-nunggu ide itu muncul dan menunda-nunda pekerjaan kita hingga mepet waktu deadline. Kenyataannya bahwa “the power of kepepet” atau “bisa karena terpaksa” memang selalu menjadi senjata andalan kita dalam mengakhiri masa-masa kebimbangan tugas ini. But in the end, we are about going crazy.

Ada satu tips sederhana yang akan mempermudah langkah kita dalam menyusun karya tulis, yaitu dengan Continue reading

Special Gift from Special Friend

Ceritanya sih, aku lagi sibuk bikin scrapbook tentang perjalananku selama tiga tahun kuliah di STAN. Well, I do it because of bored time for waiting to be a real civil employer. Dari mulai buka-buka folder foto-foto di laptop, buka catatan kegiatan harian di notes, sampai membaca ulang semua diary selama aku kuliah. Banyak memori yang tiba-tiba membuatku senyum-senyum sendiri, sebel lagi, pengen marah, pengen nangis, begitu emosional. Salah satu momen yang paling so sweet adalah kado ulang tahunku ke-18 yang diberikan oleh Rizqa Jannati Adnin, my truly best friend ever!

Tanggal 3 Oktober 2009, beberapa menit setelah tengah malam,ada sebuah SMS masuk. SMS dari Rizqa. 

Continue reading

Berburu Beasiswa ke Korea di Korean Day 2012

Gambar

pict sourcehttp://modernseoul.wordpress.com/2012/01/27/3-different-ways-of-visiting-south-korea/

By accident, aku ikutan acara seminar Korean Day 2012 di Undip hari Jumat kemarin. Awalnya sih nggak ngeh, ini seminar tentang apa. Kalau kata adik sih, seminarnya tentang cara-cara berburu beasiswa ke Korea. Kalau dipikir-pikir, lumayan juga deh ikutan daripada cuma bengong di rumah kayak katak dalam tempurung (yeeah, aku sedang dalam masa penantian untuk diwisuda).

Seminar yang diadakan oleh Korean Study Center Undip bekerja sama dengan KOICA, dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama seminar itu, diisi oleh dua orang foreigner yang berasal dari Korea (yaiyalah). Mr. Park Yong Dae (kalau kagak salah. Salahkan panitia yang tidak memberikan profil lengkap para pembicara) dan Mrs. Park Daeny yang berasal dari KOICA. Perlu diketahui, KOICA itu merupakan salah satu badan yang mempunyai peran mirip Peace Corp-nya Amerika Serikat. Mereka memberikan bantuan sukarelawan kepada negara-negara yang membutuhkan dalam bidang pendidikan, kesehatan, bisnis, TI, dan lain-lain. Kalau menurut Eric Weiner di buku The Geography of Bliss, organisasi ini merupakan pasukan penerbar sedikit kebahagian kepada negara lain. Molla~

Kembali lagi ke acara seminarnya yaa. Mr. Park Yong Dae mengawali seminar dengan memaparkan fakta bahwa beasiswa pendidikan di Korea itu sangat banyak tersedia bagi para pelajar dari negara non-Korea. Continue reading

Antara Saya(?), Gayus, dan Sahabat

Terungkapnya kasus mafia pajak, Gayus Tambunan, sempat mencoreng nama baik Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) sebagai sekolah idaman. Opini masyarakat berubah. Yang semula mengidam-idamkan STAN sebagai salah satu pilihan sekolah gratis dengan masa depan terjamin, yaitu diangkat menjadi PNS, kini masyarakat mulai mencaci maki STAN dengan sebutan sekolah pencetak generasi koruptor.

Menyebut nama STAN sebagai almamater saya, terutama ketika saya berada di kampung halaman di saat liburan seperti ini, banyak pihak yang menyindir saya sebagai the next Gayus. Saya yang masih pupuk bawang (eh) hanya bisa mesam-mesem dan berdoa dalam hati, “naudzubillah mindzalik.” Komentar-komentar tidak cerdas seperti itu, yang menggeneralisasi para mahasiswa maupun alumni STAN sebagai orang-orang tidak amanah, saya anggap sebagai angin lalu saja. Toh, mereka mungkin hanya termakan omongan media.

Tidak. Sampai suatu saat, sahabat saya sendiri yang mengatakan hal semacam itu. Continue reading