Farewell Trip: 4 Gaya Liburan di Jogja (Part 1)


Cuaca memang selalu nggak bersahabat di akhir tahun. Tiap sore hujan muluk. Kalau nggak ada niat yang kuat, acara Farewell Trip di Jogja nggak bakal terwujud. Wait-wait, kenapa lagi-lagi harus JOGJA? Judulnya Farewell Trip pulak! P-E-R-P-I-S-A-H-A-N! (biar tahu kenapa aku uring-uringan, baca postingan sebelumnya). Anyway, perjalanan kami nggak semenyedihkan judulnya kok.

Farewell Trip dengan para sahabat baik saya dimulai semenjak hari Senin tanggal 10 Desember 2012 dan berakhir di hari Kamis tanggal 14 Desember 2012. Untuk akomodasi kami diizinkan menginap di rumah Asih di daerah Dongkelan, Bantul sedangkan untuk wara-wirinya, kami juga dipinjami sepeda motor Asih (iya, kami memang nggak modal) dan memakai kendaraan umum. Selama empat hari ngebolang, kami melakoni empat gaya liburan yang berbeda lho guys! Totalnya ada 10 destinasi wisata yang kami kunjungi!

1

Hari Pertama: Gaya Nongkrong ala Mahasiswa Jogja

Sebagai mahasiswa yang baru saja diwisuda dua bulan yang lalu, nggak ada salahnya dong, nostalgia masa-masa kuliahan kami dulu. Of course: nongkrong! Kalau dulu pas di kampus, Bintaro Plaza dan Lotte Mart jadi langganan kami, tapi ini di Jogja Men, JOGJA. So, the first destination is Amplas a.k.a Ambarukmo Plasa  yang merupakan mall terbesar se-Jogja.

Perjalanan kami lanjutkan ke Masjid Kampus UGM (destinasi ke-2). Selain niat buat salat Asar, ada niat terselubung juga sih milih tempat salat di situ. Sekalian cari jodoh gitu. Ahahaha. Huss! Karena jodoh tak kunjung datang dan perut udah mulai keroncongan, kami memutuskan untuk move on ke daerah jakal, kita mimik susu dulu di Kalimilk (destinasi ke-3).

 2

Iya, kami bukan bayi lagi. Segelas susu (dengan aneka rasa yang bisa kamu pilih) seharga Rp.9.775,00+pajak 15% ternyata belum cukup membuat jinak cacing-cacing di perut. Kita perlu MAKAN BESAR BRO! Setelah saling lempar rekomendasi tempat makan, terpilihlah Raminten (destinasi ke-4), cafe bergaya DJAWA DJOGJA yang konon ada layanan plus-plus Man Only (sumpah, sampai niat ditulis di buku menunya).

3

Wah, keliatannya bakal habis banyak kalau makan di tempat kayak ginian. Katanya gak modal, katanya ngebolang. Harus hemat dong. Hehehe. To be the truth, harga makanan di Raminten standar aja tuh. Aku cukup kenyang kok melahap nasi gudeg Rp.8.000,00 dan meminum wedang bandrek Rp.3.000,00. Ada beberapa menu minuman yang harganya memang nggak lazim, tapi porsinya ternyata worth it kalo buat barengan. Es krim di Raminten recommended banget lhoh.

Momen Favorit: Teringat pengalaman pahit di Maskam UGM. At that place, I got sms from Siti, told me that her mom passed away.

Hari Kedua: Berpetualang ala Anak Pecinta Alam

Mumpung semangat buat jalan lagi on fire, pada hari kedua kami memutuskan untuk mencoba sesuatu yang lebih menantang. Well, kami akan menyatu diri dengan alam (berasa anak mapala). Next destination kami berada jauh pakai banget dari home sweet home-nya Asih. Kami bertolak dari Bantul menuju ke Gunung Kidul, tepatnya di desa Bejiharjo, di objek wisata Goa Pindul (destinasi ke-5).

Setelah menelusuri jalan Wonosari dan memasuki jalanan pedesaan yang hanya diketahui oleh Fitra (ceritanya lewat jalan tembus gitu), akhirnya kita sampai juga di depan pos pembelian tiket Goa Pindul. Ketidakmodalan kami memaksa kami hanya memilih paket penelusuran Goa Pindul seharga Rp.30.000,00 saja. Sebenarnya ada 2 paket wisata lagi yang ditawarkan. Kalau minat dan punya uang lebih, bisa kok nyobain penelusuran Sungai Oyo Rp.45.000,00 dan penelusuran Gua Sie Oyot Rp.lupa,00. Hehe.

4

Berbekal pelampung, ban karet, dan dua orang pemandu, kami menjelajah Gua Pindul. Keadaan di dalam gua sama persis dengan cerita banyak yang ditulis di blog-blog para pelancong di dunia maya. Jadi ketika mas pemandunya ngejelasin apa-apa yang ada di Gua Pindul, I already knew. Dan itu sama sekali gak asik! Biar aku nggak kecewa dengan betapa sok tahunya aku hari itu, aku pun melakukan penyeburan diri saat berada di daerah gua vertikal. Nah, begini baru seru. Merasakan pengalaman perjalanan secara pribadi tanpa interupsi pendapat orang lain.

Belum puas? Yo mesti! Sebagai tuan rumah yang baik, Fitra dengan senang hati mengantar kami menuju ke daeah wisata lainnya yang ada di Gunung Pindul. Kami diajak ke Air Terjun Sri Gethuk (destinasi ke-6).

Kami musti sabar. Jalannya jauh bener (cuma Fitra yang tahu jalan mana yang harus kami lalui), suka PHP pulak. DiPHPin sama plang petunjuk jalannya. Plang “Air Terjun Sri Gethuk 8 KM “. Plang ” Air Terjun Sri Gethuk 3 KM”. Terjadi sedikit pencerahan ketika kami sampai di pos pintu masuk objek wisata. Kami dikenai tarif Rp.5.000,00 untuk biaya masuk. Tapi ternyata rute penuh PHP ini belum berakhir. Di depan kami terpampang plang “Air Terjun Sri Gethuk 1 KM”. Dari tempat parkir motor, kami masih harus menuruni bukit lho. Daaaaan (masih sabar yaa) ketika sampai di bawah bukit, kami masih harus naik perahu Rp.10.000,00 buat nyampe ke air terjunnya. Ampun DJ!

And this is it, Air Terjun Sri Gethuk!

5

Momen Favorit: Saat melihat begitu banyak kupu-kupu di jalanan masuk ke desa Bejiharjo. Saat melihat awan pembawa hujan dari kejauhan.

Bersambung di Farewell Trip: 4 Gaya Liburan di Jogja (Part 2)

Advertisements

3 thoughts on “Farewell Trip: 4 Gaya Liburan di Jogja (Part 1)

  1. Pingback: Farewell Trip: 4 Gaya Liburan di Jogja (Part 2) | Ocehan Mia Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s