Cruel Memories in Yogyakarta

Pernah tahu ungkapan ini?

Kalau siap mencintai berarti siap patah hati.

Agaknya ungkapan di atas ada benarnya juga. Coba deh diinget-inget lagi, ketika kamu pernah merasa tersakiti, siapa coba yang bikin kamu sakit hati?
That’s right, pasti orang-orang yang kamu cintai bukan? Entah itu, orang tua, kakak, adik, teman baik, bahkan ehem ehem pacar kamu.

But, I’m sure that they don’t mean it. Kebanyakan dari kita sakit hati karena salah komunikasi, salah mengerti, salah memahami. Padahal sebenarnya, mereka hanya menginginkan yang terbaik buat kita. Iya nggak sih?

Terus kalau sakit hati karena berada di suatu tempat gimana?

Ya emang sih, intinya juga karena seseorang. But, why, why #tampang desperate, kenapa setting nya selalu di tempat yang sama? Tempat yang menurutku paling comfort sedunia. Tempat yang bernama Yogyakarta. Kota yang begitu aku cintai tapi berulang kali melukai #asaaaah.

Image

Luka pertama adalah pengalaman hilang di Pasar Beringharjo, Malioboro.

Peristiwa itu terjadi aku berumur 5-6 tahun. Baru sebulan kami sekeluarga pindahan dari Magelang ke Jogja. Ceritanya sih mau ikutan hectic shoping-shoping gitu. Gak taunya, saking excitednya sama lingkungan baru, aku sok-sokan mencar dari gandengan ibuku. Voila, tiba-tiba aku sudah berada di tempat yang berbeda. Tidak ada ibu, bapak, dan adik di sampingku.

Untung, otakku masih bisa jalan. Ide cemerlangku saat itu adalah menemukan motor Bapak yang diparkir di parkiran sepanjang jalan Malioboro dan menunggui keluargaku di sana. Well, aku memang cerdas dan brilliant.

Tapi rencana, tinggal rencana BRO. Nyatanya, jalan Malioboro udah mentok aku telusuri, aku nggak nemu-nemu keberadaan motor Bapak. Udah gitu, banyak motor yang sama pulak. Saking lapar dan capek, aku pun mewek. Aku nggak peduli dibilang cengeng, jelek, atau apa pun. Aku cuma pengen pulang. Huwaaa emaaakkk..

Untung tuh, ada Pak Parkir yang mau ngebantuin aku. Beliau mau mengantarku pulang coba? So sweet banget deh pokoknya. Bisa pulang ke rumah lagi itu mukjizat. Bayangin, Pak Parkir itu sebenernya nggak tahu lho di mana tepatnya letak daerah rumahku. Dan aku juga gak apal jalan, tapi sok-sok tahu dan ngasih petunjuk arah. Sepertinya Allah yang menuntunku. Alhamdulillah yah.

Berkat peristiwa itu, kepribadianku jadi berubah 180 derajat! Aku bukan lagi Mia yang cerewet, aktif, dan sok tahu lagi. Aku bener-bener jadi anak pendiem, penakut, dan pantas dibully. Bahkan, aku gak berani ke Malioboro hingga 6 tahun lamanya lhhooo. Sampai sekarang pun, kalau di tempat yang ramai dan banyak orang, aku tiba-tiba jadi parno, pusing, dan nggak bisa berpikir jernih. See, Yogyakarta masih memberiku luka.

Luka kedua adalah luka perpisahan dengan teman-teman baik dan cinta pertama.

Kenaikkan kelas 6 SD, aku diharuskan pindah rumah (lagi). Bukan kembali ke Magelang, tetapi ikut Bapak yang pindah kerja di Semarang. Sedihnya pakai banget buat ninggalin semua teman-temanku di Jogja. Saking sayangnya aku sama mereka, satu per satu temanku (sebagian yang paling dekat) aku hadiahi kenang-kenangan berupa koleksi bonekaku.

Kecuali kepada satu orang, aku bahkan nggak pamit ke dia kalau aku mau pindahan. Aku cuma pengen dia ngelupain aku secepatnya. Dia itu cinta pertamaku.

Sebenarnya, aku udah diberi kesempatan kedua untuk memulai lagi. Aku bertemu dia sewaktu kuliah. Kebetulan, kita sekampus. Iya, dia juga keterima di STAN. Tapi, selama tiga tahun kuliah, aku nggak berani memulai. Boro-boro ngajak ketemuan, kalau papasan di jalan aja, aku mending pura-pura nggak tahu dia. Dia nya juga jahat sih yaa. Masak nggak apal mukaku? Padahal aku hapal jelas banget very clear muka dia, even dari foto burem di Facebook.

Pernah, suatu kali, di tingkat tiga, aku beranikan diri menyapa dia di sebuah event kampus. Dia kaget dan nggak ngenalin aku coba? Jahat banget kan? Jahat pokoknya. Terus ya udah, cuma gitu doang, cuma saling sapa gitu doang. Selanjutnya, aku nggak akan pernah menyapa dia. Semoga dia baik-baik saja dan bahagia. Amin. (Aduh jadi panas).

Luka ketiga, aku harap ini luka yang terakhir, luka gagal masuk FK (Fakultas Kedokteran).

Sejak pindah di Semarang, aku punya seorang tokoh idola. Namanya Mbak Oty, kakak dari sahabatku di Semarang, Nana. Saking-sakingnya nggak punya kakak, kakak orang aku embat. Nggak kok, nggak seposesif itu, aku cuma niruin gaya prestasi akademik Mbak Oty. Sebisa mungkin aku nggikutin jejaknya. Terutama jejaknya untuk menjadi seorang dokter.

Ketika SMP, aku berhasil masuk ke SMP N 2 Semarang, sama dengan seperti Mbak Oty. Sayang pas SMA, aku gagal masuk ke SMA yang sama. Yang bikin sakit saat itu, aku gagal karena sebuah peraturan konyol pemkot saat itu. Tapi gak papa, itu bukan akhir dari segalanya.

Bagi kebanyakan orang masa SMA adalah masa paling indah. Sementara bagiku SMA itu adalah masa tercupuku selama 21 tahun hidup di dunia ini. All day a long, aku cuma fokus B-E-L-A-J-A-R. Aku nggak pernah ngerasain gimana serunya cabut pelajaran, gimana cenat-cenutnya romansa ABG labil, gimana gaulnya nonton pensi di sekolah, dll. Satu hal yang kuyakini, semua itu ada pengorbanannya. Suatu saat semua akan terbayar ketika aku sudah menjadi mahasiswa kedokteran.

Sekali lagi saudara-saudara, rencana tinggal rencana. Semua keputusan ada di tangan Allah. Aku gagal masuk ke Kedokteran. Segala macam tes aku coba (kecuali dengan permainan uang. Sorry banget pakai cara pengecut kayak gitu),tapi aku tetap gagal. Pas SNMPTN pun, aku hanya berhasil tembus di pilihanku yang kedua, Pendidikan Biologi di UNY.

Saat awal-awal menjadi mahasiswa baru di UNY merupakan saat paling berat dalam hidupku. Madesu. Masa depan suram di mataku. Aku masih belum dapat menerima keadaan. Aku masih belum memaafkan diriku atas semua kegagalan yang terjadi saat itu. Terlebih lagi, aku harus buru-buru tinggal sendirian di Jogja, di rumahku yang dulu. That’s really suck. Can you imagine how the happiest place in your life become your horrible place to stay?

Allah masih baik. Masih sayang kepadaku. Hanya dua minggu aku merasakan neraka dunia. Kabar yang membahagiakan datang dari Jakarta. Aku ternyata diterima sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Rasanya bahagia sampai ubun-ubun, bahagia tak terkira. 85% bahagia yang kurasakan saat itu adalah bahagia karena aku akan meninggalkan Yogyakarta.  Aku terlau sakit berada di sana.

Sekarang sudah tiga tahun semenjak hari itu. Seiring berjalannya waktu, aku sadar bila kesedihan yang aku rasakan ketika di Yogyakarta hanya sebagian kecil dari begitu banyaknya nikmat yang kudapat. Tanpa kesedihan-kesedihan itu, mungkin saat ini aku tidak pernah bisa menghargai kebahagian sederhana yang diberikan oleh Allah SWT.

Dengan hilangnya aku di Malioboro, aku diberi kesadaran bahwa keluargaku adalah harta yang paling berharga.

Dengan kepindahanku di Semarang, aku diberi kesempatan untuk mempunyai lebih banyak teman.

Dengan kegagalanku masuk FK, aku diperbolehkan merajut lebih banyak lagi cita-cita.

Di atas segala hal yang pernah terjadi kepadaku, harus kuakui sampai saat ini pun Yogyakarta berhati nyaman.

Nama juga udah cinta. Berkali-kali dilukai tetap mencintai.

Backsound: G.O.D – Lies

Advertisements

One thought on “Cruel Memories in Yogyakarta

  1. Pingback: Farewell Trip: 4 Gaya Liburan di Jogja (Part 1) | Ocehan Mia Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s