Berburu Beasiswa ke Korea di Korean Day 2012

Gambar

pict sourcehttp://modernseoul.wordpress.com/2012/01/27/3-different-ways-of-visiting-south-korea/

By accident, aku ikutan acara seminar Korean Day 2012 di Undip hari Jumat kemarin. Awalnya sih nggak ngeh, ini seminar tentang apa. Kalau kata adik sih, seminarnya tentang cara-cara berburu beasiswa ke Korea. Kalau dipikir-pikir, lumayan juga deh ikutan daripada cuma bengong di rumah kayak katak dalam tempurung (yeeah, aku sedang dalam masa penantian untuk diwisuda).

Seminar yang diadakan oleh Korean Study Center Undip bekerja sama dengan KOICA, dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama seminar itu, diisi oleh dua orang foreigner yang berasal dari Korea (yaiyalah). Mr. Park Yong Dae (kalau kagak salah. Salahkan panitia yang tidak memberikan profil lengkap para pembicara) dan Mrs. Park Daeny yang berasal dari KOICA. Perlu diketahui, KOICA itu merupakan salah satu badan yang mempunyai peran mirip Peace Corp-nya Amerika Serikat. Mereka memberikan bantuan sukarelawan kepada negara-negara yang membutuhkan dalam bidang pendidikan, kesehatan, bisnis, TI, dan lain-lain. Kalau menurut Eric Weiner di buku The Geography of Bliss, organisasi ini merupakan pasukan penerbar sedikit kebahagian kepada negara lain. Molla~

Kembali lagi ke acara seminarnya yaa. Mr. Park Yong Dae mengawali seminar dengan memaparkan fakta bahwa beasiswa pendidikan di Korea itu sangat banyak tersedia bagi para pelajar dari negara non-Korea. Selain itu, Mr. Park juga memberikan beberapa bocoran mengenai universitas mana saja yang termasuk universitas keren di Korea. Yang pertama pastinya Seoul National University, yang kedua ada KAIST, lalu disusul oleh POSTEC, dll.

Lain halnya dengan Mrs. Park Daeny. Beliau mengawali pembicaraannya dengan menceritakan sejarah Korea. Negara bekas jajahan Jepang ini merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945, hampir sama dengan Indonesia ya. Akan tetapi pada tahun 1950-1953 terjadi perang saudara sehingga pecahlah Korea menjadi Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut). Selalu deh, perang memberikan efek negatif bagi negara yang mengalaminya. Pasca perang saudara itu, Korsel mengalami kehancuran di segala bidang. Bahkan Presiden Korsel pada waktu itu berkata bahwa negara ini membutuhkan waktu seratus tahun untuk memperbaiki diri. Voila, nyatanya, hanya perlu kurang/lebih 60 tahun, negara Korsel telah menjadi macan Asia. Kalau dilihat dari pendapatan perkapitanya, pada awal kemerdekaannya dulu, pendapatan perkapita orang Korsel kurang dari $1000 per tahun, tetapi sekarang telah melejit menjadi $20.000 per tahun. Indonesia pun ketinggalan jauh, yaitu hanya $300 per tahun. Wah-wah.

Tentunya, kesuksesan negara Korsel ini tidak terjadi secara magic. Ada kerja keras dan usaha sungguh-sungguh dari rakyat Korea untuk mencapai hal itu. Memang dasarnya tipe orang Korsel ini suka bekerja keras, tidak mau kalah, dan selalu ingin maju, didukung dengan beberapa program pemerintah yang benar-benar pro rakyat, seperti pembangunan jalan tol dari Seoul ke Busan, adanya program pergerakan kampung baru untuk mendidik warga desa menajdi lebih maju, dll. Selain itu ternyata, para orang tua di Korea sangat concern dengan pendidikan putra-putrinya. Mr. Park Daeny mempunyai istilah khusus dalam bahasa Korea untuk menyebutkan hal itu. Mian, aku lupa. Yang jelas, kalau dibahasaindonesiakan, isitlah itu adalah “Anak sekolah belajar mati-matian”.

Gambar

pict source: scholarshipstimes.com

Nah, lhoh, kalau orang Korsel sendiri aja belajar dan bekerja keras seperti itu, kita sebagai calon pelajar di negeri Gingseng itu harusnya menyesuaikan diri dengan kebudayaan mereka dong. Pendapat ini dibenarkan oleh pembicara selanjutnya pada sesi talkshow, yaitu oleh Pak Ridho dan Pak Prihantoro, kedua-duanya merupakan dosen Undip yang pernah mendapatkan beasiswa ke Korea. Beliau-beliau ini yakin, kita semua sudah memiliki potensi, tinggal bagaimana usaha kita saja yang menentukan hasil. Tentu saja dengan berdoa lho guys.

Oya, Pak Prihantoro juga berbagi tentang jenis-jenis beasiswa yang bisa kita dapatkan di Korsel,

antara lain

  1. Beasiswa dari pemerintah Korea itu sendiri (Biasanya full-scholarship tetapi saingannya banyak)
  2. Beasiswa dari universitas/perusahaan Korea (biasanya tidak full-scholarship)
  3. Beasiswa dengan syarat tertentu (lebih banyak peluang asal sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan)
  4. Beasiswa dari profesor (caranya dengan mencari tahu daftar nama profesor dari universitas tertentu melalui web. Lalu mengirimi beliau email tentang riset yang akan kita ajukan)

Selain kesempatan beasiswa di atas, tentunya ada banyak jalan lain ke Seoul (hehehe). Tinggal kitanya aja yang bisa cerdik memanfaatkan peluang. Kalau kata Mrs. Park Daeny nih, yang perlu kita siapkan ada tiga, yaitu dream, confidence, and chance.

Setelah mengikuti seminar ini, aku jadi sadar ternyata Korea tidak hanya boyband dan drama tetapi juga kerja keras. Ayok belajar ke Korea!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s