Antara Saya(?), Gayus, dan Sahabat

Terungkapnya kasus mafia pajak, Gayus Tambunan, sempat mencoreng nama baik Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) sebagai sekolah idaman. Opini masyarakat berubah. Yang semula mengidam-idamkan STAN sebagai salah satu pilihan sekolah gratis dengan masa depan terjamin, yaitu diangkat menjadi PNS, kini masyarakat mulai mencaci maki STAN dengan sebutan sekolah pencetak generasi koruptor.

Menyebut nama STAN sebagai almamater saya, terutama ketika saya berada di kampung halaman di saat liburan seperti ini, banyak pihak yang menyindir saya sebagai the next Gayus. Saya yang masih pupuk bawang (eh) hanya bisa mesam-mesem dan berdoa dalam hati, “naudzubillah mindzalik.” Komentar-komentar tidak cerdas seperti itu, yang menggeneralisasi para mahasiswa maupun alumni STAN sebagai orang-orang tidak amanah, saya anggap sebagai angin lalu saja. Toh, mereka mungkin hanya termakan omongan media.

Tidak. Sampai suatu saat, sahabat saya sendiri yang mengatakan hal semacam itu. Bermula ketika kami jalan-jalan ke toko buku, saya yang tiba-tiba excited melihat buku 7 Keajaiban Rezeki karangan Ippho Santosa, langsung menerocos,”Ini nih, buku yang lagi ngetren di kalangan teman-teman STAN.” Di luar dugaan, sahabat saya berkomentar, “Baguslah kalau pada baca buku itu, biar nanti gak jadi Gayus.”

Krik. Saya sempat terdiam. Otak saya menjadi lola alias loading lama untuk hanya mencari jawaban cerdas, menyangkal pernyataan barusan. Kecewa, kalimat yang keluar dari mulut saya hanya,”Ahh, anak STAN bukan seperti itu.” Sungguh ini bukan kalimat penyangkalan yang cerdas.

Entah kenapa, saya menjadi sedih. Saya jadi merasa tersakiti.

Bukan saya yang melakukan tindakan kotor, tetapi kenapa saya yang dianggap kotor? Apalagi hal itu terucap dari mulut sahabat saya sendiri, yang selama ini cukup mengenal bagaimana saya, bagaimana rutinitas saya, bagaimana pergaulan saya.

Ketika merencanakan aksi ngambek, saya malah diingatkan oleh tweet @doctorizki pagi ini, “ketika kamu punya 1 alasan untuk suudzon, carilah 1001 alasan utk berhusnudzon kpd orang lain.” Saya pun buru-buru mencoba menenangkan hati, mencoba berpikiran jernih.

Eh, saya kok malah jadi teringat tweet lainnya, yang sama-sama menghiasi timeline tadi pagi, kali ini datangnya dari @iiijul, “ini dari temen gw: kita sibuk menyuruh orang lain husnuzhon pada kita, sementara kita lupa menjaga diri dari hal2 yg membuat orang lain suuzhon pada kita.ini ngjleb banget.” Well, pada kasus saya tadi, saya memang kecewa dengan sindiran sahabat saya. Rasanya kok dia tidak percaya kalau saya dapat menjadi PNS yang amanah. Dari sini, kesannya memang saya menginginkan predikat baik dari sahabat saya kan? Namanya juga manusia, selalu ingin mendapat pujian.

Namun, saya jadi mempertanyakan diri saya sendiri. Apakah selama ini saya sudah berusaha untuk menjadi PNS yang amanah nantinya? Apakah saya sudah mempersiapkan bekal untuk mencapai tahap itu, tahap menjadi PNS yang amanah? Apakah saya sudah mempersiapkan diri dari sekarang, sejak saya belajar di kampus STAN?

Hihihi. Saya malah jadi malu. Ternyata selama ini saya belum cukup maksimal mempersiapkan pembekalan untuk memegang amanah itu. Belajar masih malas-malasan. Ngaji masih malas-malasan. Begini kok marah ketika disindir bakal menjadi the next Gayus. Saat ini, saya masih bisa berpegang teguh pada idealisme saya yang anti-korupsi. Tapi tanpa pembekalan ilmu dan iman yang mantab, mungkin saja bila nanti menghadapi realita dunia kerja, saya bisa kor****. Ahh, saya tidak mau menyebutkannya. Naudzubillah mindzalik.

Ayo deh, saya harus move on dari kemalasan dan kesantaian. Saya akan buktikan bahwa saya tidak seperti apa kata media. Status saya juga mahasiswa, juga the agent of change, si agen pembaruan. Ayo siapa yang mau ikutan? Berjamaah jauh lebih OK, lho. Hehehe.

Heu.Selain menyadari bahwa saya juga masih harus banyak belajar, saya juga menyadari satu hal dari kejadian ini. Ternyata kami berdua benar-benar sahabat. Why? Karena sahabat itu adalah seseorang yang membuat dirimu menjadi pribadi yang lebih baik. Dan dia telah membuat saya menjadi lebih baik bukan? Hahaha. Ending posting yang maksa.

NB.Tweet aslinya nih..

@doctorizki: ktk km punya 1 alasan untuk suudzon, carilah 1001 alasan utk berhusnudzon kpd orang lain.

@lamiamirre: praktiknya sulit klo kesulut emosi RT @doctorizki: ktk km punya 1 alasan untuk suudzon, carilah 1001 alasan utk berhusnudzon kpd orang lain.

@iiijul: @lamiamirre @doctorizki ini dari temen gw: kita sibuk menyuruh orang lain husnuzhon pada kita, sementara kita lupa menjaga diri dari hal2 yg membuat orang lain suuzhon pada kita.ini ngjleb banget.

(gambar didapat dari separonyolong.blogspot.com)

Advertisements

5 thoughts on “Antara Saya(?), Gayus, dan Sahabat

  1. bener, kita yang muda2 ini seharusnya jadi agent of change, kalau kita bisa, sebenarnya kita bisa kok memberantas korupsi 🙂
    dan bener banget, sakit hati kalau kalo kita disamain sama gayus, makanya kita harus membuktikan kalau kita nggak seperti itu 😛

  2. yang penting nantinya berusaha untuk melakukan yang terbaik,,,dan tentu dimulai dari sekarang,,di lingkungan kampus,,,tentu g jamin jg kalo di kampus baik nanti kalo udah terjun di dunia kerja baik juga…tetep semangat aja deh… ayo tetep berbangga sebagai mahasiswa STAN…dan klo udah jd alumni ntar juga tetep berbangga dan ada rasa memiliki 🙂

    salam kenal,,silakan kalo mw berkunjung balik 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s