Ngubek-Ubek Semarang Bawah

Saatnya merasakan suasana Semarang Kota yang dipengaruhi tiga unsur kebudayaan asing: Cina, Belanda, dan Arab. Hari ini pun, kami memulai tour kami menuju kuil Sam Poo Kong yang terletak di daerah Sampangan. Seperti hari sebelumnya, saya bersama kedua tamu saya, Asih dan Erik, janjian ketemu dengan Pras. Kali ini, kami memilih Taman KB, depan SMA N 1 Semarang sebagai tempat bertemu kami. Selain letaknya yang strategis, dekat dengan jantung kota Semarang, Simpang Lima, kami juga dapat narsis-nasrsisan terlebih dahulu, sambil nungguin Essa yang masih turun gunung (maklum dari Pudak Payung, Banyumanik, Semarang Atas). Baru setelah semua personil sudah komplit, kami langsung melenggang membelah jalan Pahlawan, menuju kuil Sam Poo Kong.

  

Woh. Kuil Sampookong benar-benar telah berbenah. Beda sekali suasana kuil ini dua tahun yang lalu #yaiyalah.

Berada di kuil ini bagaikan berada di Negeri Tirai Bambu, Cina. Cukup membayar Rp 3000,00 dan parkir Rp 1000,00, kita dapat puas berfoto dengan background kuil, patung Cheng Hoo, patung dewa-dewa Cina, dan pintu gerbang khas kerajaan Cina. Tetapi, ini belum termasuk tiket untuk memasuki kuilnya lhoo. Kalau ingin masuk ke dalam kuil Sam Poo Kong, kita harus membayar restribusi sebesar Rp.20.000,00.

Masih belum dapet suasana Chinesse-nya, kita juga dapat menyewa kostum khas Cina. Boleh dicoba kostumnya kaka, terutama buat para pelancong berdompet tebal, karena perorangnya dikenakan tarif Rp.75.000,00. Huiihh, mahal #bagimahasiswa. Saran deh buat temen-temen yang tertarik main ke Sam Poo Kong, lebih baik datang pagi atau sore hari. Soalnya, sumpahlah, kalau siang-siang gini panas gilak!

Satu kebudayaan telah kita selusuri, sekarang kita beralih ke unsur budaya lainnya yang kental mempengaruhi sejarah kota Semarang, yaitu kebuadayaan Eropa: Belanda. Tidak salah lagi, kali ini kami menuju Lawang Sewu yang letaknya tidak jauh dari Sam Poo Kong, yaitu di area Tugu Muda. Harga tiket masuk Lawang Sewu Rp.10.000,00 per orang. Untuk menyewa guide, kita hanya perlu membayar Rp.30.000,00. Setelah masalah pertiketan beres, mas guide mengantar kami berkeliling Lawang Sewu. Sayang, kami sedikit kurang beruntung. Karena masih dalam tahap renovasi, gedung A, gedung yang ada di depan, belum bisa dimasuki pengunjung. Alhasil, kita hanya dapat menikmati kekhasan gedung B yang dulunya, di zaman kolonial, diperuntukkan untuk para pribumi. Padahal bangunan gedung A lebih artistik dan elegant:ada tangga klasik yang dipakai untuk syutting film Ayat-Ayat Cinta, ada kaca mozaik khas Belanda, dan ada juga aula untuk berpesta dansa para noni Belanda. Huih.

Selain terkenal dengan keindahan arsitekturnya, Lawang Sewu juga dikenal dengan kehorrorannya. Buktinya, sudah beberapa kali, Lawang Sewu dijadikan tempat untuk uji nyali di acara tipi-tipi swasta. Bahkan, ada yang terinspirasi membuat film horror berjudul Lawang Sewu.

Lagi-lagi jiwa LAKIK kami ditantang untuk menjelajahi ruang bawah tanah yang terkenal paling horor seLawang Sewu. Saat Belanda masih berkuasa, ruang bawah tanah dimanfaatkan sebagai tempat drainase dan AC manual. Tapi, semua berubah setelah negara Jepang menyerang. Ruang bawah tanah pun disulap sebagai tempat penyiksaan para pemberontak pribumi ataupun Belanda. Ada penjara jongkok, penjara berdiri, dan ruang penggal kepala. Hiyy Sereem! Yasudahlah, yan penting kan photo-photonya. Hahaha..

 

Lawang Sewu bukan satu-satunya gedung peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh di Kota Semarang. Kalau ingin lebih banyak lagi menikmati suasana mirip Eropa, teman-teman bisa mampir ke Kawasan Kota Lama. Di sini, banyak sekali bangunan-bangunan khas benua Eropa. Pantas lah, Semarang dijuluki sebagai Venesia-nya Jawa alias Venice van Java.

  

Sayang, bangunan-bangunan ini kurang mendapatkan perhatian pemerintah Kota Semarang. Coba sedikit direnovasi, pasti dapat dijadikan salah satu sumber pendapatan daerah #lho #mataduitan.

Khusus bulan Februari – Maret ini, jangan lupa mampir ke Semarang Cotemporary Art Galery yang masih terletak di kawasan Kota Lama, dekat dengan Gereja Blenduk. Di sana, kita dapat melihat pameran kesenian komtemporer koleksi Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Walaupun gak ngerti seni, tapi berkunjung ke pameran ini cukup menyenangkan. Patut dicoba kaka :3

 

Advertisements

2 thoughts on “Ngubek-Ubek Semarang Bawah

  1. terakhir ke sampokong errrr kelas 5 SD, ke lawang sewu malah belum pernah ke bawah tanahnya, males mampir soalnya tiap hari lewat waktu SMA hehehehe…
    punya poto2 di tugu muda pun gara2 ada temen main ke semarang wkwkwkwk.
    tapi jadi pengen lebih menjelajah semarang nih habis baca postingan Lamia 😀

    • haha.iya mbak.kalo gak krn temen2 mampir ke semarang pun, aku jg gak akan menjelajah. soalnya tahu sendirikan, semarang itu panasnya naudzubillah. tp sejak penjelajahan kmrn, aku jd nyadar kalau semarang itu cantik banget. dalam satu kota ada pegunungannya, ada pantainyaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s