Ngubek-Ubek Semarang Atas

Puas beristirahat dari perjalanan lintas provinsi kemarin malam, Jakata – Semarang, hari ini kami memulai tour wisata di kota Semarang. Lebih tepatnya, kami akan bertandang  ke Desa Wisata Umbul Sidomukti, Semarang Atas.

Dari bumi Tlogosari, saya bersama kedua tamuku, Asih dan Erik, memulai perjalanan ke rumah Pras yang ada di daerah Sompok, belakang Java Mall, dan langsung meneruskan perjalanan ke rumah Essa yang berada di Pudak Payung, daerah Banyumanik. Jauh benar perjalanan dari rumah saya ke rumah Essa. Padahal masih ada dalam satu kota lho. Ini juga masih setengah jalan ke Umbul Sidomuktinya (koreksi Umbul Sidomukti terletak di Ungaran, Kabupaten Semarang). Tetapi semangat kami tidak semudah itu dipudarkan. Mengingat di sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan kota Semarang yang cantik dan berbeda tipe. Dari Semarang Bawah, kami dapat menjumpai kawasan pemerintahan dan pemukiman penduduk yang padat yang berbukit-bukit. Sedangkan di Semarang atas, kami menemui hijaunya pepohonan di kanan-kiri jalan. Ditambah lagi sensasi berkendara dengan motornya itu lhoo.. berasa LAKIK!

Kurang lebih satu setengah jam kami sampai juga ke Desa Wisata Umbul Sidomukti. Hanya dengan Rp.6000,00, kami memasuki area outbond dan mulai menikmati pemandangan kota Semarang dari atas Gunung Ungaran. Subhanallah, keyeen bhok! Walaupun bukan pertama kalinya saya melihat pemandangan kota Semarang seperti ini (sebelumnya saya pernah melihat pemandangan kota Semarang dari atas candi Gedong Songo), tetap saja saya merasa takjub. Mungkin lebih menyenangkan lagi bila saya bisa menikmati keindahan ini sambil berenang di kolam unyu. Hihihi.

Naluri jiwa LAKIK yang menggelora di dalam dada #salah, memaksa saya, Asih, dan Erik pun mencoba tantangan flying fox. Jincha, ini beneran taruhan nyawa. Di bawah kami jurang men! Berhubung tekad sudah bulat, kami nekad saja meluncur dari satu bukit ke bukit lain. Lumayan. Teriak-teriak. Menghilangkan stress ujian sertifikasi dan pengumuman IP. Kekeke.

Ternyata tidak cukup itu saja, Asih dan Erik masih tertantang untuk menaklukkan Marine Bridge, menyusuri jembatan tambang yang lagi-lagi menghubungkan dua bukit. Keliatannya sih so easy, tetapi ternyata butuh tenaga ekstra keras untuk sekadar melewatinya.

  

Hari semakin terik. Selepas shalat dhuzur, kami melanjutkan perjalanan ke Pagoda Avalokistesvara. Bah, sulit banget ngucapin namanya, kita sebut pagoda aja yaa. Pagoda ini emang udah lama nangkring di depan kodam IV Diponegoro. Tetapi keindahannya baru saja dipercantik beberapa tahun terakhir ini. Sebagai warga kota Semarang, saya mungkin bisa cukup berbangga dengan adanya pagoda ini. Konon katanya, pagoda ini merupakan pagoda tertinggi di Indonesia. Bahan bangunan yang digunakan untuk membuat pagoda ini, 99% diimpor langung dari Cina. Bahkan, ukiran-ukirannya pun sama dengan ukiran di pagoda yang ada di Macau, Hongkong.

 Huaaahh. Seru juga jalan-jalan by riding motorcycle. Perjalanan hari ini pun ditutup dengan kulit muka terbakar. Lain kali sepertinya saya harus memakai kostum berkendara motor komplit: bersarung tangan, berkaos kaki, dan berslayer. Jangan lupa, oleskan sunblock! Matahari Semarang ganas, Bro!

 

Advertisements

13 thoughts on “Ngubek-Ubek Semarang Atas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s