Pelajar Anti-Lupa

“Emak, spidol dan penghapusnya ketinggalan di kosan.”
“Haduh, lupa bawa buku perpus IMMA. Padahal hari ini kan harus dikembaliin.”
“Eh, tadi kacamata mana, ya?”
“Oya, sore ini kan ada liqo.”

Sumpah ya. Beberapa minggu ini, pasca sakit, terlalu lama bed rest di rumah Semarang, saya menjadi sedikit linglung menghadapi gegap gempita dunia perkuliahan di kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Seperti penyakit typhusku yang tiba-tiba kumat, penyakit lupaku juga ikut-ikutan kumat. Saya jadi sedikit kesulitan membagi waktu antara belajar, berorganisasi, bahkan mengurusi diri sendiri. Ending-endingnya nih kalau udah kayak gini, beberapa agenda ada yang terlewat. Jadi sering bolos rapat, telat masuk kelas, miss salat duha, suka tidur telat kalau malam (untung masih bisa bangun pagi).

Sering terburu-buru dalam melakukan sesuatu dan tidak terencana dengan baik agaknya juga mengacaukan pikiranku. Yang seharusnya cuma masalah kecil alias sepele, jadi masalah gedhe. Terutama kalau menyangkut janji ma temen-temen. Contoh nyatanya nih, beberapa waktu lalu, saya terpaksa membatalkan janji untuk makan bareng @mutiaramarga karena terlalu sibuk memantau kerjaan publikasi dan registrasi di acara Stania Fair. Yang begini ini yang bikin temen dan perut jadi ill-feel. Kalau kejadian ini terjadi berulangkali, banyak temen-temen yang jadi kurang respect dengan saya kerena sering rempong sendiri dan badanku pun jadi kurang pasokan gizi. Ending-endingnya, harus bed rest lagi, kena typhus. OMG!

Gak mau lagi deh, kehilangan banyak moment istimewa lantaran gak bisa ngurusin jadwal diri. Apalagi, saya sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir. Kapan lagi bisa seneng-seneng bersama teman-teman kalau gak sekarang ini waktunya. Jadi, saya putuskan, saya harus berubah menjadi lebih teratur.

Alhamdulillah, emang ya, kalau udah niat itu, Allah pasti ngasih jalan. Pas iseng-iseng melototin buku-buku murah yang ada di acara bazar Stania Fair 2011 hari Minggu lalu, saya menemukan buku “Organize Your Life.Panduan OK Jadi Remaja Anti-Lupa” karangan Samantha Moss. Bukan kali pertama saya berjodoh dengan buku ini. Mungkin sudah hampir setahun lalu, saya juga nemu buku ini di rak buku bagian psikologi di toko buku Gramedia. Karena gak bawa duit pas saat itu, saya pun tidak jadi beli. Eh, tidak disangka, ketemu lagi. Walaupun masih dalam keadaan sama, tidak membawa uang lebih, saya tetap meniatkan hati membeli buku itu. Mumpung harganya diskon, mumpung ada yang ngutangin (cc @sitiarmayani). Heu.

Sesudah acara berlangsung, saya langsung membaca halaman demi halaman buku itu. Tidak langsung sehari selesai juga sih. Saya mencoba membaca buku itu dengan penghayatan. Saya pun menandai bagian-bagian yang penting yang mungkin akan terlupa. Di bagian awal buku, ada semacam test untuk menggolongkan tipe ketidakaturan seseorang. Ada tipe penunda sejati, tipe panikan, tipe kebanyakan kerjaan, dan tipe pemimpi. Saya ternyata masuk ke tipe panikan dan tipe kebanyakan kerjaan. Well, saya harus akui kelemahan saya tersebut. Buku ini pun memberikan saya solusi yang cukup baik. Mulai dari bagaimana mengatur pengorganisasian dokumen sekolah, mengatur jadwal, sampai ngedekor kamar biar jadi sarana ajib buat nyelesein segala schedule.

Kalau pengen tahu lebih banyak lagi tentang isi buku ini, silahkan beli sendiri :D. Maybe next time, saya bisa ceritakan lebih banyak lagi kalau teori-teori dalam buku ini berhasil saya buktikan. Keep your spirit to be a better person.

Advertisements

5 thoughts on “Pelajar Anti-Lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s