Kisah Sepetak Alun-Alun

Alun-Alun Kidul Yogyakarta bukanlah tempat yang bisa dengan mudahnya saya singkirkan dari memori otak saya yang akhir-akhir ini kinerjanya dipertanyakan. Well, liburan gini, jadi jarang mikir yang berat-berat. Maunya cuma mikir kesenangan dunia: menghambur-hamburkan uang rapelan (plis itu cuma Rp 150.000,00) dengan bershopping sepanjang jalan kenangan eh Malioboro ding. OK, tadi cuma ngerandom. Tidak perlu dihiraukan apalagi dimasukkan ke dalam hati untuk dijadikan inspirasi.

Kenapa sebegitunya saya mencintai Alun-Alun Kidul? Bukan, bukan karena kutukan keramat dua pohon beringin yang masih berdiri dengan tegaknya di tengah alun-alun, ini lebih menyinggung pada masa kecil saya yang penuh cinta di Jogja #ceileee. Hampir tiap Minggu pagi, Bapak ngajakin anak-anaknya yang polos, lucu, dan menggemaskan ini gowes dari rumah menuju Alun-Alun. Yang menjadikan moment ini spesial adalah kebersamaan kami ini yang tidak dapat dinikmati sehari-hari. Maklum lah, Bapak harus mencari rezeki di Semarang untuk membeli susu agar anak-anaknya tumbuh tinggi menjulang bak tiang listrik depan rumah.

Masa-masa itu hidup terpisah itu berakhir sudah setelah Bapak tidak tahan lagi hidup menyendiri kayak bujangan jomblo. Tahun 2002, kami pindah ke Semarang. Rumah Jogja kami tinggalkan, begitu dengan rutinitas keseharian kami di sana. Kami memulai semua hal yang baru di Semarang.

Kalau tiba saatnya liburan kayak gini nih ketika kami keluarga dapat berkumpul bersama, kami tidak akan pernah lupa untuk berlibur ke Jogja. Gak perlu lah, capek-capek buat ngebooking hotel, kami cuma perlu membawa tikar, kasur lipet, beberapa bantal, dan keperluan menginap lainnya untuk dijadikan bekal tidur di rumah Jogja kami yang kebetulan saat ini lagi sepi dari para pengontrak rumah. Sumpah, mobil tua Bapak, si Jagur, bener-bener keliatan reot dipenuhi barang-barang kami yang mirip banget ma korban pengungsian banjir Semarang.

Nah, di pagi hari liburan akhir tahun yang indah ini di Jogja, seusai menunaikan ibadah shalat Subuh, Bapak mengajak kami pergi ke Alun-Alun Kidul. Tentunya dengan style yang beda. Kali ini kita jalan oi. Gak mungkin juga lah yaa kami paksain ngebawa sepeda dari Semarang. I know Jagur so well. Walaopun jalan, walaopun jauh, walaopun sempet marahan ma si bungsu (biasalah mule sifat manjanya), saya bener-bener nikmatin acara jalan-jalan ini.

Seketika saya teringat kenangan masa kecil saya di sini. Lah gimana enggak, kami menyusuri jalanan yang pernah saya lewati ketika berangkat sekolah di SD dahulu kala. Sempet mampir bentar ke SD Suryadiningratan IV yang udah nambah kinclong dan masih lengkap ma tiang badmintonnya dulu sering berubah fungsi menjadi beteng ketika kami main beteng-betengan. Ngelewatin lapangan depan SD yang banyak menyimpan cerita tragis bagi saya : dikejar anjing, disosor banyak (banyak is an animal like a swan or it’s swan itself? maaf bukan pengamat dunia hewan), dikejar om-om kelainan jiwa yang mamerin piipp nya dengan sengaja (setipe ma om-om di music video Tell Me-nya Wonder Girls), dsb, dll.

Perjalanan kami lanjutkan menuju ke Plengkung Gading yang telah menjadi saksi bisu keramaian kota Jogja dari masa lampau hingga masa modern seperti sekarang ini. Voillaa.. Alun-Alun Kidul sudah berada di depan mata kami.

Banyak hal yang berbeda. Everything changes. SD ku saja bisa berubah, masak Alun-Alun yang pamornya lebih ngehitz  kalah? Hal yang paling ngebikin aku frustasi, nanar, dan bermuram durja adalah kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi gajah keraton yang dipelihara di sebelah barat Alun-Alun ini. Kandang gajah yang dulu pagarnya sering aku panjat, kini sudah jadi bangunan tanpa tuan. Sungguh, kenyataan yang memilukan.

Mati satu, tumbuh seribu. Itulah motto hidup yang selama ini saya pegang bila cowok yang saya gebet jadian dengan gadis belia lain. Eh, salah topik. Kembali ke nasib gajah tadi. Walaupun kandang gajah sudah tidak lagi menyimpan daya tarik, demi meningkatkan pamor Alun-Alun Kidul yang selalu saja kalah dari Alun-Alun Utara, maka pemerintah kota Jogja membangun beberapa alat-alat kebugaran yang tersebar di pinggiran Alun-Alun. Lumayan lah yaaa.. saya jadi gak perlu ngeluarin doku buat fitness lagi selama di Jogja. Thanks God!

Hal yang paling seru dan ditunggu-tunggu adalah kulinernya dong hae. Kalau dulu saya selalu dibelikan pizza mini yang dijual ma mahasiswa-mahasiswa kampus mana, aku tak tahu. Kali ini, saya yang terbiasa membeli pizza di Pizza H*t (naik kelas) jadi gak minat makan pizza ecek-ecek yang dijual ma mahasiswa-mahasiswa kampus mana, aku tak tahu. Istilahnya kagak lepel lah, kata sohib saya yang dari Jakarta. Lagian mahasiswa-mahasiswa kampus mana, aku tak tahu itu juga udah nggak jualan kalii. Pilihanku jatuh pada mbok-mbok ndeso yang berjualan nasi pecel ma lopis. FYI, lopis itu sejenis jajanan pasar yang terbuat dari beras ketan yang bentuknya mirip lontong. Biasanya lopis tidak sendiri, dia disajikan bersama teman-temannya yang sebagian besar terbuat dari beras ketan seperti chenil, ketan rebus, mata kebo, gendar, dll, rela diguyur parutan kelapa muda dan kinco, larutan gula merah a.k.a karamel. Campuran lopis and the gank itu sangat legit, mak nyus kalau kata Bondan Prakoso #eh #salah. Beda lah pokoknya ma lopis yang pernah aku beli di Pasar Bintaro. Harganya cuma seribu lima ratus Rupiah saja sodara-sodara, itu pun pake uang emak eyke. Bahagia itu sederhana.

Well, that’s really amazing experience that I ever had. Lebay. Norak. Begituan doang. Whatever, yang penting itu kebersamaan bareng keluarganya itu lhoo. Tak tergantikan. Dan yang lebih membuatku bersyukur pada hari itu adalah kabar duka dari seorang sahabat saya, @sitiarmayani. Her Mom passed away. Left her alone in this world. Get brigther soon, my bling-bling chingu, @sitiarmayani. I try hard to reach you, always.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s